WeLcome

AssALamu'aLaykUm WarWab.....!

Blog ini di Dedikasikan Untuk Seluruh Pembaca Yang
meluangkan Waktunya Untuk Sejenak Berzikir akan Karunia dan Kasih Sayang Illahi Rabbi
SeMoGa BeRmAnFa'aT...

Untuk Kalian Yang Berkorban Demi Seseorang

Untuk Kau yang Sedang Mencari seseorang Terkasih

Untuk Kalian Yang Menanti..

Untuk Kalian Yang Berbahagia

Untukmu yang Bersedih..

Untuk Semua Hamba Yang Menginginkan Syurga

Dan Berjuang Serta Berlomba Untuk Menjadi Mutiara Dunia..

Untuk Semua..
and
Special For Kanda Addin Who motivated me. .
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 April 2010

UANG 5000

Selembar Uang 5000

***

Anak dalam gendongan Sri belum diam. Semakin Sri berusaha
menenangkannya, tangis anak itu semakin pecah. Sri mulai kuwalahan
untuk membujuknya.

“Cup-cup, Nak. Sebentar lagi Bapak datang.” Bujuk Sri sambil menimang-nimang dalam gendongan.

“Mungkin dia lapar, Sri.”

“Mungkin iya, Mbak.”

“Tadi anakmu sudah makan belum ?”

“Belum.”

“Kalau begitu cepat kasih dia makan.”

Sri tersenyum. Menelan ludah yang terasa kian hambar di lidah yang
sejak kemarin belum kemasukan makanan. Tawar dan getir adalah hiasan
hidupnya.


“Kok malah senyam-senyum. Wong anak sedang rewel kok dibiarkan.”

“Anu, Mbak. Saya belum masak hari ini.” Jawab Sri dengan suara tercekat.

Kening Wati berlipat seketika. Matanya menatap jam dinding yang sedang bergerak menunju angka sepuluh.

“Sampai siang begini belum masak? Kenapa?”

“Ehm… “ Sri agak canggug meneruskan kalimatnya. “Beras kami habis.”

Wati mulai menangkap permasalahan Sri, yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Nasibnya

dengan Sri tidak jauh berbeda. Hanya saja Wati belum dikaruniai anak meskipun telah menikah hampir lima

tahun.

“Kalau habis, kenapa tidak beli Sri?” Pancing Wati.

“Sebenarnya pengen beli, Mbak. Tapi… kami sedang tidak punya uang.” Wajah Sri menunduk,

menyembunyikan rasa sedih yang telah menjadi teman dalam kesehariannya. Sri tahu, tak ada gunanya

berpura-pura di depan Wati. Wanita itu tahu persis bagaimana kehidupannya. Hanya saja Sri tidak enak

hati kalau dengan keterusterangannya membuat Wati iba dan ikut bingung mencari jalan keluarnya.

Bagaimanapun Sri juga menyadari kalau nasib Wati juga tidak lebih baik darinya. Mereka sama-sama

perantau dari kampung yang ingin merubah nasib di kota seperti Surabaya. Hanya saja rumah petak mereka

letaknya agak berjauhan.

“Kami menunggu Bapaknya Dian pulang.” Ucapnya lirih. Tangan kusamnya mengelus kening Dian, anak

semata wayangnya yang telah tenang. Sebenarnya Sri tak yakin dengan
ucapannya. Pekerjaan suaminya yang hanya penarik becak tidak bisa
diharapkan setiap saat. Padahal tiap hari mereka harus memberi setoran

kepada juragan becak. Sejak kemarin ia dan suaminya belum makan. Hanya minum air putih yang diberi

sedikit gula. Segenggam beras yang tersisa dia buat bubur untuk anaknya. Dan hari ini Sri benar-benar

tidak memliki apa-apa. Hanya beberapa sendok gula di toples. Sri dan suaminya memilih mengalah. Air

gula yang ada mereka berikan untuk Dian.

“Sri.” Sapa Wati lembut. “Kamu tidak biasa hutang?”

Sri menggeleng lemah. Ia begitu memegang erat wejangan suaminya agar tidak membiasakan

berhutang. Hutang hanyalah jerat yang bisa mencekik setiap saat. Apalagi tak ada yang bisa dijadikan

jaminan untuk membayar jika si peminjam suatu saat datang menagih. Itulah prinsip yang ditekankan

suaminya.

Wati trenyuh. Perasaan iba muncul tanpa bisa dicegahnya. Apalagi saat matanya menatap Dian yang

telah pulas dalam gendongan Sri. Dian begitu pucat. Wajahnya tirus dengan perut yang agak membuncit.

Kulitnya bersisik kasar karena kurang vitamin. Tanda-tanda kekurangan gizi tampak jelas di tubuhnya.

Hening. Semua tenggelam dalam angan masing-masing.

“Aku ada uang lima ribu.” Wati menyodorkan selembar lima ribuan kepada Sri. “Pakailah.”

Sri terkejut. Ia pandangi wajah Wati dan uang yang berada di tangannya bergantian. Ia yakin

tetangganya dari kampug itu juga sedang membutuhkan uang. Suami Wati baru saja sakit. Pasti belum bisa

menarik becak seperti suaminya. Apalagi saat ia teringat dengan pesan suaminya.

“Jangan, Mbak. Pasti Mbak Wati juga membutuhkannya. Insyaalah saya masih bisa bertahan sampai

bapaknya Dian pulang.”

“Aku percaya kalian masih bisa bertahan. Tapi bagaimana dengan Dian? Dia sudah begitu kurus. Dia

bisa sakit Sri. Kalau sampai itu terjadi pasti biayanya akan lebih mahal. Aku yakin kamu juga tidak tahu kapan suamimu pulang.”

Sri mendesah. ibu mana yang tega anaknya sampai kekurangan gizi. Ia pun sebenarnya iba melihat

nasib Dian. Ditatapnya wajah Dian yang begitu tenang. Sebutir cairan bening mengumpul memenuhi sudut-sudut matanya.

“Tapi kalau uang ini aku pinjam, bagaimana dengan Mbak Wati?”

“Tenang Sri. Aku biasa pinjam ke warung dekat rumah. Mas Darmin juga sudah sembuh. Insyaalah

besok sudah bisa narik lagi.” Jawaban Wati tidak membuat Sri lega. Tapi Sri benar-benar tidak punya

pilihan saat itu.

“Terimaksih, Mbak. Nanti kalau bapaknya Dian dapat uang pasti segera kukembalikan.”

“Ya sudah, cepet belanja. Aku pamit dulu. Nanti Mas Darmin bingung kalau aku tidak segera

pulang.”

“Iya, iya Mbak. Sekali lagi terimaksih, Mbak.”

* * *

Derit roda sayup terdengar. Roda yang selalu berputar meyusuri setiap jengkal jalan hidupnya.

Setiap deritnya selalu meberikan harapan bagi Sri dan Yanto. Harapan
itulah yang membuat mereka sanggup bertahan hidup. Ia yakin nasibnya
berjalan seperti roda. Kadang dibawah, namun suatu saat roda itu pasti

akan bergerak ke atas. Meskipun putaran roda kehidupan itu dirasanya berjalan sangat lambat untuk bisa

mencapai puncak.. Tapi roda itu tidak boleh berhenti. Harapan dan impian telah membuat roda itu tetap

berputar. Bergerak. Menggelinding. Meski perlahan.

“Assalamualaikum.” Suara yang begitu dikenal muncul dari arah pintu triplek.

“Wa’alikum salam.” Sri segera menyambut dan mencium tangan si empunya suara.

Sri menatap wajah suaminya dengan mata berbinar. Yanto dibuat tak enak hati karenanya. Wajahnya

pias melihat tatapan isrtinya.

“Maafkan aku, ya.” Suara Yanto tedengar berat. “Ternyata hari ini pun aku gagal mendapatkan uang

lima ribu yang kujanjikan pagi tadi.” Wajahnya menunduk, takut melihat reaksi istri tercintanya.

Sri tak kaget. Ia sudah menduganya. Tangannya menggandeng tangan suaminya menuju ruang tengah

yang berfungsi sebagai tempat makan sekaligus ruang tidur.

“Mas yanto pasti capek dan lapar. Sekarang, Mas makan dulu.” Ajak Sri lembut sambil membuka

tudung nasi..

Yanto terlonjak. Ia tak percaya melihat hidangan istimewa di depannya. Sebakul nasi putih yang

megepul hangat, semangkuk sayur bayam dan beberapa potong tempe telah tersaji rapi di atas meja kayu

yang kakinya telah lapuk.

“Dari mana semua makanan ini, Sri?” Tanya yanto dengan suara gagap.

“Sudahlah, Mas Yanto makan dulu. Dari kemarin sampeyan belum makan. Kalau sampe Mas Yanto sakit,

kita semua akan semakin repot.” Tangan Sri telah menyendok nasi ke piring untuk Yanto. Dengan cekatan,

Sri menambahkan sepotong tempe dan sesendok sayur di atasnya.

“Tapi semua ini dari mana, Sri?” Tanya Yanto sekali lagi.

“Saya akan cerita kalau Mas Yanto mau makan.”

Yanto menurut. Dengan ragu tangannya menyendok nasi dari piring. Setelah yakin suaminya

menikmati makanannya, barulah Sri bercerita.

“Mas, tadi Mbak Wati sepulang mencuci dari Bu Handoyo mampir.” Sri diam sejenak. Melihat reaksi

suaminya. Kemudian mengalirlah kisah hidupnya sepagi tadi sampai
akhirnya semua hidangan istimewa dapat tersaji di meja makan mereka.

Uhuk!Uhuk!

Yanto tersedak. Buru-buru Sri menuangkan air putih ke gelas plastik yang di dekatnya.

“Pelan, Mas. Nggak usah buru-buru.”

Yanto diam. Menatap wajah istrinya dalam-dalam. Begitu banyak kalimat yang ingin ia ucapkan

kepada istrinya. Tapi mulutnya tetap terkunci. Ia tidak pernah tega menyakiti wanita yang begitu rela

menemaninya hidup menderita. Tapi Yanto sangat gusar mengingat kejadian
yang dialaminya sebelum pulang ke rumah. Rasa nikmat yang baru
didapatnya lenyap seketika. Menu istimewa yang ada di depannya tidak
lagi menggoda selera makannya. Hambar. Itulah yang dirasakan lidahnya
saat ini.

“Kenapa kamu mau menerima uang dari Mbak Wati?” Jelas terdengar suara Yanto begitu berat.

“Sebenarnya sudah kutolak, Mas. Tapi Mbak Wati memaksa. Ia tidak tega melihat Dian, anak kita.

Aku juga tidak tega kalau sampai Dian jatuh sakit karena tidak makan apa-apa. Pasti nanti kita akan

butuh uang lebih banyak untuk mengobati Dian. Akhirnya aku pun menerima
uang lima ribu itu. Maafkan aku, Mas. Aku tahu Mas tidak suka hutang.
Tapi kita sedang tidak punya pilihan.” Ada rasa bersalah dalam nada
bicara Sri. Wajahnya menunduk. Ia pun tidak berselera untuk melanjutkan
sarapan yang sekaligus juga

makan siang.

“Sri, sebelum pulang aku tadi mampir menjenguk Mas Darmin.Tak kulihat makanan di rumahnya. Ia

sedang menunggu Mbak Wati yang meminjam uang pada Bu Handoyo setelah
mencuci.” Yanto diam sejenak. Mengatur nafas yang semakin tidak
teratur. “Aku semakin tidak tega saat melihat Mbak Wati diomeli pemilik
warung ketika akan berhutang lagi. Apa kamu tega makan semua ini, Sri?”
Yanto berdiri. Tangannya

menyambar topi lusuh yang tergeletak di kursi.

“Mas Yanto mau kemana?”

“Keluar. Mencari uang untuk mengganti uang Mbak Wati.” Yanto melangkah tanpa menoleh ke

belakang.

Sri terpaku. Memandangi punggung suaminya yang basah oleh keringat. Ada perih di hatinya. Ada

rasa bersalah yang begitu desak-mendesak dadanya. Sebutir bening telah menggantung di kedua sudut

matanya.

Ia segera bergegas membungkus semua makannnya. Tak ada cara lain. Ia harus mengantarkan makanan

itu untuk Wati.

“Mbak Wati, maafkan aku.” Ucap Sri hampir tak terdengar.

Rabu, 31 Maret 2010

Hadiah kejujuran

Firman masih terjaga. Ditemani jam weker dan segelas susu hangat
yang baru diantar ibunya. Mulutnya komat-kamit menghafal rumus
matematika. Kadang matanya terpejam, berharap rumus yang dihafal dapat
melekat di otak. Namun rasa kantuk yang kuat, sering mnghapus
hafalannya. Harus bisa! Tekadnya dalam hati. Firman tak rela gelar
juara pertamanya direbut oleh Andi untuk yang kedua kali. Apalagi
ayahnya sudah berjanji akan membelikan sepeda baru kalau ia berhasil
merebut kembali juara pertama.
“Luas kerucut adalah…, adalah… aahhh…! Lupa lagi!” Keluhnya kesal.
Matanya kembali melihat buku diktatnya. Memandangnya dengan alis
bertaut, bibir terkatup. Menutupnya lagi. Menghafal lagi. Dan… lupa
lagi! Matanya hampir tertutup karena kantuk. Tapi Firman belum
menyerah. Ia paksa matanya tetap terjaga. Seteguk susu diharapkan mampu
menahan kantuk yang sering menyerang tiba-tiba.

Ia buka lembar yang lain. Matanya kembali memejam…
“Luas kubus adalah 6 X sisi X sisi. Luas tabung …, luas tabung …, tuh,
kan. Lupa lagi!” Dengusnya sedikit keras. Tangan kanannya dengan malas
membuka-buka lagi bukunya. Betapa terkejutnya saat Firman sadar kalau
banyak sekali rumus yang belum dihafalnya. Sementara detik demi detik
terus berlalu dan hampir menunjuk jam sebelas malam.
“Tak ada cara lain.” Desisnya hampir tak terdengar. Tangannya segera
menyobek kertas. Kemudian dengan cepat ia menyalin rumus-rumus yang
belum dihafalnya. Dengan tulisan yang acak-acakan, akhirnya Firman pun
selesai. Segera ia menuju kasur empuknya. Kertas yang berisi rumus pun
di bawanya. Hatinya gelisah. Bagaimana kalau besok Bu Guru tahu saat
aku nyontek? Tanyanya dalam hati. Tapi kalau nggak nyontek, pasti aku
tidak bisa. Tapi kalau nyontek, berarti aku curang. Tapi kalau tidak
nyontek aku tidak jadi punya sepeda baru. Tapi…. tapi… Sebelum sempat
melanjutkan kegelisahannya, Firman tertidur.
* * *

“Firman.” Suara itu mengagetkan Firman. Tangannya gemetar, tubuhnya berkeringat.

“Serahkan kertas itu!” Pinta Bu Guru tegas. Tangannya yang masih
gemetar memberikan sesobek kertas yang berisi salinan rumus matematika.

“Karena menyontek, semua nilaimu akan dikurangi.” Kata Bu Guru sambil
mengambil lembar jawabnnya. Wajahnya menunduk. Lemas. Malu. Semua
teman-temannya melihat ke arahnya.

“Huu… ternyata Firman pinter karena nyontek! Pantes jadi juara.”

“Firman, curang!”

“Firman pembohong!”

“Juara nyontek!”

“Huu…!”
Suara teman-temannya mencibir, mengolok dan mencemooh. Firman tidak tahan lagi. Ia pun berdiri.

“Aku tidak pernah menyontek! Tidak pernah!” Teriaknya keras-keras.

“Firman. Firman. Ayo bangun. Sholat subuh dulu.” Suara Ibu terdengar. Pipinya ditepuk berkali-kali.

“Kamu kenapa? Mimpi buruk ya?” Firman tergagap. Tubuhnya masih berkeringat. Mimpinya benar-benar seperti nyata.

“Ayo, Ayah sudah menunggu untuk sholat.” “Iya, Bu.” Dengan perasaan
yang masih takut Firman pergi meninggalkan kamarnya. Setelah berwudhu,
ia bergabung dengan ayah dan ibunya untuk sholat. Setelah sholat,
Firman merenungi mimpinya. Ia pandangi kertasnya.
“Aku tidak boleh melakukannya.” Tekadnya dalam hati. Firman pun
melanjutkan belajarnya. Ia tetap berusaha menghafalkan rumus-rumus
matmatika. Ia tidak lagi berpikir untuk menyontek. Ia terus komat-kamit
dengan mata terpejam. Sesekali matanya membuka untuk memstikan bahwa
yang hafalannya benar. Kemudian memejam lagi. Komat-kamit lagi. Sampai
ibunya masuk dan mengingatkannya untuk segera mandi dan bersiap-siap
sekolah.
“Ayo, Firman. Nanti telat. Ayah sudah mandi, lho.”

Firman bergegas mandi dan bersiap-siap. Dengan sedikit tergesa ia
memakai seragamnya. Memakai sepatunya. Menyambar tasnya. Dan berlari
menuju halaman di mana ayah telah siap menunggu. Tak lupa ia
meremas-remas dan membuang contekannya ke tempat sampah di halaman.
Setelah mencium tangan ibunya, ia masuk ke dalam mobil ayah.

“Bu, berangkat dulu. Assalamu’alaikum.” Teriaknya sambil berlalu.
* * *

Dua minggu berlalu. Hari ini adalah pembagian rapot. Ayahnya yang
mengambil, sedang firman menunggu di rumah dengan persaan was-was. Ia
murung. Sejak ayahnya berangkat sampai sekarang Firman belum ingin
makan. Ia yakin akan gagal merebut juara pertama lagi. Tapi Firman
pasrah. Toh memang Firman memang sering sakit sehingga tidak masuk
sekolah. Di lihatnya jam dinding dengan gelisah.Entah mengapa ia merasa
jarum jam itu jadi lambat jalannya. Dengan malas, ia pun melanjutkan
membaca buku ceritanya.
“Assalamu’alaikum,” Suara ayah terdengar dari depan bersama mobilnya.

“Wa’alikum salam.” Firman melonjak, menaruh buku ceritanya dan berlari ke halaman.

Ayah berjalan sambil membawa rapot di tangan kanan. Jantung Firman semakin deg-degan. Ia remas-remas tangannya.

“Bagaimana, Ayah?” Tanya Firman cemas. Ayah diam. Firman semakin yakin,
kalau ayah marah. Ia pun menunduk, tak berrani menatap wajah ayahnya.
“Sini, Firman. Lihat rapotmu.” ajaak ayah yang telah duduk di teras.
Firman mendekat, dan duduk di sebelahnya. Matanya melihat halaman yang
ditunjukkan ayah. Ia menelan ludah saat mengetahui kalau ia hanya
mendapat peringkat dua.

“Kamu kecewa?” Tanya ayah.

“Iya, Yah.”

“Kenapa?”

“Karena aku hanya peringkat dua.”

“Tapi Ayah tidak kecewa. Ayah bangga.” Firman kaget. Ia tak mengerti
kenapa Ayah bisa bangga padanya. Padahal ia gagal merebut juara pertama.
“Kamu ingin tahu kenapa Ayah bangga?” Firman mengangguk.

“Karena anak Ayah jujur, itu yang membuat bangga.” Kening Firman berkerut tak mengerti.

“Saat hari terakhir ujian, Firman berniat menyontek, kan?” Firman pun
teringat dengan salinan rumus yang dibuatnya. Denga malu-malu Firman
mengangguk. “Kertas contekan yang kamu buang ditemukan Ibu.” “Ini, kan
kertasnya?” Tiba-tiba Ibu datang dengan membawa kertas yang sudah lecek
bekas diremas-remas. “Ibu menemukan di tempat sampah.” Lanjut Ibunya.

“Karena Firman jujur, Ayah punya hadiah untuk Firman.” Kata Ibu.

“Benar, Yah?” Tanya Firman dengan mata berbinar gembira.

“Tentu saja. Ayo ikut Ayah.” Firman mengikuti langkah Ayah menuju mobil.

Tangan Ayah membuka pintu tengah mobil. “Wah, sepeda baru! Aku punya
sepeda baru! Terimaksih, Ayah.” “Ini hadiah kejujuran untuk Firman.”

Firman tidak jadi menyesal karena gagal menjadi juara pertama. Ia
gembira karena kejujurannya membawa berkah. Ia berjanji tidak akan
menyontek selamanya.

KLoK

ArSiP